Tidak terasa sudah mendekati satu tahun setelah Civil Days 2018. Kali ini Civil Days 2019 akan hadir dengan tema baru yaitu: “Implementasi Digitalisasi Teknologi pada Bangunan Tinggi untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 di Indonesia”. Perkembangan industri sekarang ini sudah memasuki era 4.0. Era dimana teknologi sudah semakin canggih dengan menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic dan lain sebagainya atau yang biasa dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Hal ini pasti berdampak kepada dunia konstruksi dikarenakan konstruksi merupakan salah satu pionir pembangunan ekonomi di indonesia. Oleh karena itu penting sekali dunia konstruksi mulai bersahabat dengan teknologi supaya tidak tertinggal oleh perubahan era yang ada. Digitalisasi semakin diperlukan guna mempermudah para praktisi menyelesaikan proyek yang mereka jalankan dengan cepat dan juga memiliki kualitas yang baik. Salah satunya dengan metode Building Information Modelling (BIM). BIM adalah teknologi permodelan dan serangkaian proses untuk menghasilkan, mengkomunikasikan, dan menganalisis model bangunan (Eastman et al,2008). Hal ini memungkinkan para arsitek dan kontraktor merancang bangunan dengan cara yang sama seperti bangunan pada aslinya. Model yang dibuat menggunakan peranti lunak BIM sangat cerdas karena disertai dengan hubungan dan informasi yang dibangun pada model tersebut. BIM membantu penyedia layanan AEC (Architecture, Engineering, and Construction) untuk meningkatkan akurasi, efisiensi, dan produktivitas yang menghasilkan penghematan waktu dan biaya. Para perusahaan yang sudah menggunakan BIM seperti Skanska dan Barton Malow merasakan manfaat dalam penjadwalan, pembuatan estimasi, dan analisis resiko yang lebih kolaboratif, dan manajemen fasilitas yang jauh lebih baik daripada tidak menggunakan BIM. Perkembangan BIM di Indonesia sendiri jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain (Gegana & Widjanarso, 2015). Di negara lain seperti Amerika, para praktisi besar maupun menengah sudah akrab dengan Building Information Modelling (BIM). BIM merupakan salah satu perkembangan yang paling menjanjikan dalam sektor AEC (Architecture, Engineering, and Construction) (Eastman dkk., 2011). BIM menyediakan sistem integrasi dari keseluruhan desain serta konstruksi dan mampu mengkoordinasi proses secara digital dari tahap pra konstruksi sampai dengan tahap konstruksi. (Garber, 2014). Sehinga, dengan adanya BIM, ketiga sektor dapat berkolaborasi dalam satu sistem. Pengaplikasian BIM memang harus menggunakan software khusus seperti Autodesk Revit, ArchiCAD, AECOSim dan software lainnya. Di indonesia sendiri, hanya praktisi besar yang sudah akrab dengan BIM dan softwaresoftware tersebut. Oleh karena itu, perlu edukasi lebih lanjut mengenai sistematika BIM kepada praktisi kecil hingga menengah. Sehingga diharapkan semua proyek di indonesia bisa mengaplikasikan BIM sehingga dapat meminimalisir waktu serta biaya yang dikeluarkan. Hal ini juga tentunya akan berdampak pada kemajuan ekonomi di Indonesia. Sehingga dengan maju nya dunia konstruksi diharapkan dapat membantu mewujudkan cita-cita nasional. Dari latar belakang tersebut, maka Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang bermaksud menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Implementasi Digitalisasi Teknologi Pada Bangunan Tinggi Untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 di Indonesia”. Permasalahan-permasalahan yang kerap muncul pada konstruksi bangunan selama ini diharapkan dapat diselesaikan dengan inovasi-inovasi yang bersinergi dengan lingkungan melalui serangkaian acara Civil Days 2019.